when we pass the AMPERA bridge.
perjalana ke pulau kemaro berlangsung selama 45 menitan, selama di sepanjang bantaran sungai musi dari ketek terlihat rumah - rumah apung berderetan sambal membunuh kebosanan kami memilih berfoto- foto. Ketika turun ketek dan mau masuk ke area pulau kemarau kami disambut oleh pintu look like gapura china. untuk masuk ke pulau ini, tidak dikenakan biaya apapun. ukuran pulau ini nggak terlalu besar. konon, ketika sungai musi meluap atau surut tinggi air di sekitar pulau tidak pernah berubah selalu sama, oleh sebab itulah pulau ini disebut pulau kemaro karena memang selalu kering.
sementara itu ada lagi kisah legenda dari pulau ini bahwa, jaman dahulu ada seorang pangeran china yang berniat memperistri seorang putri dari raja Palembang, ketika dalam perjalanan menuju Palembang. Dalam perjalanan menuju Palembang, ia berniat melihat hadiah apakah yang dibawakan oleh orang tuanya untuk digunakan sebagai upeti terhadap putri kerajaan Palembang tersebut. Tiba-tiba ia terkaget, ketika ia membuka pundi-pundi uang emas, isinya hanyalah sayur-sayuran semua. Lantas, Tan Bun Ang pun mencoba membuka semua pundi tersebut dan isinya hanyalah sayuran. Karena marahnya, maka Tan Bun Ang pun membuang semua pundi-pundi tersebut ke dasar laut. Namun, tanpa sengaja, ketika ia membuang pundi terakhir, sayurannya tersibak dan uang emas jatuh menimpa tepian pundi. Lantas ia tampak kaget. Ia sangat menyesal karena ia telah membuang seluruh pundi yang berisikan uang emas tersebut yang hanya ditutupi oleh sayuran asin tersebut.
Tak lama setelah itu, lantas ia pun menerjunkan diri ke tempat di mana ia mecemburkan uang-uang emasnya tersebut guna mencari uang emas tersebut. Sampai akhirnya berita tersebut sampai kepada Siti Fatimah. Siti yang menyesalkan kejadian ini pun akhirnya ikut menceburkan diri ke sungai untuk mencari suaminya. Ia bersumpah sesaat sebelum ia terjun, bahwa di lokasi tempat ia menceburkan diri akan muncul 5 gundukan yang akan menjadi lokasi makamnya. Lima gundukan tersebut dipercaya sebagai makam Sang Pangeran, Tan Bun Ang, Siti Fatimah, Panglima serta dua dayang Siti Fatimah. Lima Gundukan tersebutlah yang kemudian dikenal sebagai Pulau Kemaro seperti sekarang ini. Benarkah begitu? Tetapi, benar atau tidaknya sebuah cerita turun-temurun itu tidak usah dipermasalahkan. Tetapi, yang pasti dengan cerita itu kita menjadi terhibur, dan, tentunya kita masih dapat menikmati panorama alam Pulau Kemaro yang senegitu memikat ini. (sumber : google)

Beberapa langkah setelah turun dari ketek
Gak tau kebenaran cerita itu bener apa nggak yang jelas ada hikmah yang dapat ambil dr cerita itu jangan terlalu cepat mengambil kesimpulah hehe
andikaangenband, wika, salsa, cimul, heng, fird
menurut aku pribadi suasana disana sepi, mungkin karna nggak berpenghuni dan saat itu bukan hari libur. banyak potensi pariwisatanya tapi pulau itu bener - bener dibawah ekspekasi aku, saat itu pulau kemaro sangat gersang walau sudah dibasahi hujan. tapi tujuan sebenernya aku bukan cuma menikmati wisatanya. acctualy dengan siapa aku pergi juga sangat mempengaruhi suasana disana mungkin pada saat itu seseorang ITU belum tau .... jadi, sikapnya masi biasa aja bisa dikatakan kami dulu deket walau tak sedekat nadi ini hahahaha dan seketika semuanya beruba setelah he's know ... *etdahhh malah curcol* sorry gaiss.
wika, salsa, mul
Yang paling menarik dari pulau yaitu kelentengnyoo. kelentengyo terawatt, berse, bagus tinggi, beda cak disekelingnyo, pagodanyo jugo bagus dan mungkin banyak cerita didalamnya historical lah yehh, dak papolah yeh pake bahaso pelembang be la kepalang. kalo kawan nak lengkap ceritonyo banyak di google. kalo ditanyo pengen dak main ke pulou kemarau lagi dak caknyo, sekali bae. eh tapi mungkin sekarang la bagus yeh, abis kami puas bekeliling kami putuskan untuk balek dan balek lagi ke ketek, samolah cak pegi tadi kami foto- foto lagikkkk .
Hasil Foto
AMPERA BRIDGE dari kejauhan mata memandang
So, let's come to Palembang gais!!!!!
|